A Werewolf Boy: Melukiskan Cinta Sejati, Melampaui Tenaga Pikir

Nampaknya sesudah kesuksesan The Twilight Saga (2008), kisah romansa antara manusia, vampir, dan serigala menjadi berita terhangat tersendiri di masyarakat yang meromantisasi kisah romansa dengan aliran fantasi dan aksi. Jo Seng Hee memandang fenomena ini sebagai sebuah kesempatan untuk memproduksi A Werewolf Boy yang mengangkat kisah cinta antara manusia dan serigala.

Jo Seng Hee adalah sutradara kenamaan Korea Selatan yang sebelumnya lebih tertarik untuk membikin film pendek seperti Don’t Step Out of The House yang mempunyai aliran thriller dan End of Animal yang mempunyai slot kakek tua aliran misteri dan fantasi. Pada A Werewolf Boy, Jo Seng Hee seakan keluar dari area aman dan nyamanya, dengan memproduksi film fiksi dan melodrama yang tak pernah dibuat sebelumnya. Hasilnya malah luar awam, A Werewolf Boy menjadi film melodrama terlaris sepanjang masa di Korea Selatan dan menempati posisi pertama dengan penjualan 4,1 juta karcis seminggu sesudah perilisannya serta tembus puncak box office Korea Selatan.

A Werewolf Boy mungkin memang mempunyai kisah cinta yang kurang lebih sama dengan film-film yang mengangkat kisah cinta kepada makhluk beda ragam seperti The Twilight Saga dan Warm Bodies, melainkan yang membikin film ini istimewa dari film serupa adalah kisah cinta yang dibawakan tak monoton, mengajari arti penting ketulusan, dibumbui dengan adegan manis dari Song Joong Ki dan Park Bo Young yang membikin penonton gemas, serta alur cerita yang meraba hati. Tak mesti menjadi logis dalam sebuah film untuk bisa menghadirkan sensasi tersendiri bagi para penonton, A Werewolf Boy cakap menguras hati dan emosi para penonton dengan perselisihan yang dibawakan.

Seumpama dikala kemunculan karakter Ji Tae (Yoo Yeon Seok) yang digambarkan sebagai karakter pria yang tinggi hati, senantiasa berbuat gaduh, serta bagaimana ia memperlakukan Suni (Park Bo Young) dan Chul Soo (Song Joong Ki) cakap membikin penonton turut serta membenci karakter hal yang demikian. Akting dari para pemain A Werewolf Boy betul-betul menjanjikan mengingat film ini membawakan kisah yang menarik serta pesan yang dikenalkan dalam film bisa dimaknai oleh para penonton. Ditambah dengan sinematografi yang keren pada kala itu dibarengi juga penerapan palet warna yang terasa lembut dan hangat di mata penonton menambah ketertarikan sendiri dalam merasakan film A Werewolf Boy.

Film A Werewolf Boy tak cuma mengangkat kisah romansa saja, terdapat faktor lain seperti konspirasi pemerintah, eksperimen terlarang, serta perselisihan yang muncul dalam masyarakat sesudah kemunculan manusia serigala juga ditampilkan dengan bagus. Untuk ukuran film yang menghadirkan manusia serigala sebagai pemeran utama, film ini cenderung bersih dari adegan perlombaan dan gore, malahan adegan dikala Chul Soo berhadapan dengan Ji Tae yang membikin ia naik pitam dan mencabik-cabik tubuh Ji Tae ditampilkan secara rapi dan tak memunculkan rasa jijik

pada penonton. Maka film ini terasa ingin mengambil ‘aman’, terdapat sebagian adegan yang hakekatnya dapat dibuat lebih kuat dan klimaks untuk bisa luar biasa penonton seperti bagaimana Chul-soo berubah menjadi manusia serigala seutuhnya, darimana asal serta bagaimana Chul-soo diciptakan sebuah eksperimen slot garansi 100 oleh seorang dokter, maupun penantian Chul-soo yang mesti dapat diperlihatkan untuk menambah kejelasan dalam film ini sehingga tak memunculkan pertanyaan dan asumsi di akhir film, nampaknya memang sutradara telah membangun ‘lingkup aman’ semenjak permulaan sampai akhir film.

Menyusuri kembali dalam film A Werewolf Boy, hakekatnya kisah cinta yang dibawakan tak sama dengan kisah cinta dalam film percintaan lainnya. Aku akui kisah cinta yang berada dalam film ini on another jenjang, digambarkan cinta sejati tak mesti membikin pemeran utama saling berjumpa, mengasihi, dan mengikat komitmen loyal hingga akhir hayat, film ini mengajari bahwa cinta adalah spot temu untuk bisa saling mempercayai dan merelakan untuk kebaikan satu sama lain. Tak ada aksi romantis, sepucuk surat cinta, maupun kata-kata gombal yang dilontarkan Chul-soo untuk menggambarkan rasa cinta kepada Suni, lebih dari itu bagaimana metode mereka menghidupkan suasana romantis yang hangat, serta saling melindungi dan memerlukan satu sama lain adalah kunci film ini bisa dicontoh dengan bagus oleh penonton.

Mengobrol seputar melodrama, umumnya memperlihatkan ending yang berbeda dari apa yang diinginkan penikmatnya, melainkan riilnya absensi ending yang demikian memberikan kesan tersendiri dalam hati penonton. Itu pula dengan film A Werewolf Boy yang menghadirkan akhir cerita slot bet kecil demikian itu meraba, bagaimana akhir dibuat untuk mempresentasikan apa makna dari cinta sejati. Sederhananya, A Werewolf Boy memberi tahu kisah cinta yang berwarna dalam tiap-tiap menitnya slot bet kecil sehingga emosi penonton dibuat seperti menaiki wahana roller coaster sebab tampilan cerita bersuka cita, penuh canda, perselisihan klimaks, serta duka terjadi sepanjang alur cerita A Werewolf Boy.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *